Halloween party ideas 2015

Al khusyu- Demi jiwa serta penyempurnaannya, maka Dia mengilham¬kan kepada jiwa itu tentang kejahatan dan ketaq¬waan. Sungguh beruntung¬lah orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya. (As Syam 7-10).


Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langi¬t dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada Pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis). Allah membimbing kepada Cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.( QS. An Nur, 24: 35)

Rangkaian ayat-ayat diatas merupakan dasar-dasar sederhana tentang proses pengajaran spiritual atau perjalanan ruhani yang sesungguhnya. Sebuah proses dimana digambarkan adanya Cahaya Allah Sendiri yang menyinari jiwa kita terlebih dahulu sehingga kemudian barulah kita bisa berada pada keadaan atau suasana ketaqwaan. Disini kelihatan sekali bahwa pengajaran spiritual atau ruhaniah itu bukanlah dalam bentuk kajian¬kajian ilmiah di Sekolah, di Universitas atau di Pondok Pesantren 
(Ma’hat) sebagaimana yang dikira oleh kebanyakan orang selama ini.


Dalam ayat-ayat tersebut, Allah menjelaskan proses pengajaran dan bimbinganNya kepada kita melalui bentuk perumpamaan berupa Myskat (ceruk) yang didalamnya terletak sebuah pelita yang tertutup kaca. Cahaya-Nya yang dilambangkan sebagai cahaya pelita besar yang terkumpul didalam cerukan dinding yang berlubang, sebagai perumpamaan atas dada manusia yang telah dipenuhi oleh Cahaya Allah. Dengan Cahaya Allah itulah manusia akan mampu menangkap dengan jelas bimbingan Allah didalam setiap langkah kehidupannya.

Cahaya Allah itu tidak dapat diperoleh hanya dari proses mendengarkan pengajian, ceramah, atau mengumpulkan data-data ilmu pengetahuan dari berbagai kitab terkenal. Semua kajian itu perlu memang, tapi tetaplah itu belum cukup. Sebab pengetahuan dari ceramah, pengajian, dan kitab-kitab itu barulah hanya berupa petunjuk awal untuk memahami bagaimana kita seharusnya bersikap dan belajar menerima bimbingan langsung dari Allah secara ruhani. Itupan kalau dipahami. Sebab sudah berbilang zaman kita umat Islam ini seperti berada pada masa-masa traumatis untuk belajar olah ruhani atau spiritualitas gara-gara ada Al Halaj dan Siti Jenar yang dianggap oleh mayoritas ulama Islam mainstream sebagai simbol dari kesesatan berspiritual. Sehingga akhirnya sampai sekarang, Agama Islam yang begitu indah itu telah dipecah-pecah oleh umatnya sendiri, paling tidak, menjadi Islam syariat disatu sisi, dan Islam hakekat dan atau ma’rifat disisi lainnya.

Padahal Kitab Suci Al Qur’an yang merupakan “Peta Ruhani” dan petunjuk bagi pejalan menuju Allah menjelaskan tentang keutuhan (kekaffahan) Islam itu sendiri. Sebuah Islam yang tidak bisa dipecah-pecah dan dipisah-pisahkan menjadi hanya berupa Islam syariat saja, atau Islam hakekat dan ma’rifat saja. Keutuhan Islam itu oleh Al Qur’an dijelaskan bahwa saat Islam itu dijalankan dengan sikap yang tepat, maka akan ada pengajaran dari Allah yang dapat diterima secara langsung oleh jiwa manusia. Pengajaran itu langsung diturunkan Allah kedalam jiwa manusia yang telah dibersihkan oleh Allah karena sikap manusia itu sendiri kepada Allah.

Sikap ini dikenal dengan istilah IHSAN, yaitu sikap yang menyadari bahwa Allah melihat sikap dan tindak tanduk hati kita setiap saat. Allah tidak hanya terbatas mengamati perilaku dan aktifitas fisik kita saja, lalu setelah itu Allah hanya tinggal berdiam diri dan memerintah-merintahkan para malaikat-Nya untuk melakukan aktifitas selanjutnya.

Tidak begitu. Allah Yang Maha Hidup selalu sangat SIBUK setiap saat memberikan pengajaran kepada jiwa manusia yang percaya dan yakin atas keberadaan-Nya. Sehingga dengan pengajaran dari Allah itu kita umat manusia ini bisa menyikapi setiap problematika kehidupan kita dengan jiwa yang lapang dan tenang.

Disebutkan juga didalam Al Qur’an bahwa Allah ADA. Namun keberadaan-Nya itu tidak bisa ditangkap oleh penglihatan dan pikiran kita. Dia ada dan sangat dekat dengan jiwa kita, sehingga apa-apa yang terlintas di dalam hati kita akan terdengar, terlihat dan diketahui dengan sangat jelas oleh-Nya. Karena DIA memang Maha Mendengar, Maha Melihat, dan Maha Mengetahui. Tidak hanya begitu, dengan tegas Al Qur’an juga mengatakan bahwa Allah akan merespons setiap do’a hamba-hamba-Nya yang berdo’a kepada-Nya. Dan kita sebagai objek dari respon Allah itu akan dapat menangkap jawaban Allah itu seketika itu juga. Inilah yang dinamakan sikap ihsan yang utuh atas keberadaan dan kegiatan Allah terhadap manusia.

Maka dengan demikian, pemahaman atas Allah dengan segala keberandaan dan kegiatan-Nya dapat disederhanakan dalam bentuk sikap tadzkiyatunnafs berikut ini:

Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya (SUDUR, DADA, JIWA, RUHANI) untuk (menerima) agama Islam lalu ia (DADA ITU) MENDAPAT CAHAYA dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Alla¬h. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata. (Az Zumar 22).

Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya. (Az Zumar 23).

Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mu’min supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana, (Al Fath 4).

Disinilah diperlukan sebuah alat komunikasi antara Allah dengan manusia. Yaitu Jiwa, dada, ruhani, atau sudur tempat dimana Allah berhubungan langsung dengan manusia. Bahwa setiap manusia pasti memiliki jiwa, melalui jiwa inilah manusia dapat berkomunikasi dengan Allah. Dan kepada jiwa manusia pulalah Allah menuntun kegiatan Ruhani menuju pengetahuan-Nya berupa ilham tentang ketaqwaan. Pengetahuan ruhani itu dapat kita rasakan secara langsung tanpa hijab. Kita akan merasakan setiap tuntunan itu akan mengarah kepada kebaikan dan kebahagiaan sejati.

Hasil yang kita dapatkan, bisa kita kalibarasi ulang dengan memakai ayat Al Qur’an yang merupakan penjelasan mengenai pengalaman pengajaran spiritual didalam jiwa Para Nabi Allah, Para Wali Allah, dan orang-orang shaleh sepanjang masa. Kita akan diajak oleh ayat Al Qur’an itu untuk berada dalam keadaan, suasana, realitas dari dunia spiritual itu yang bukan lagi dalam bentuk pengetahuan spiritual. Kita akan berada (being experience) dalam pengalam¬an spiritual sebenarnya yang tidak bisa diungkapkan dalam bentuk kata-kata dan artikulasi bunyi. Keadaanya sama sebagaimana kita pernah merasakan rasa cinta yang sejati kepada kekasih kita ataupun kepada orang-orang lain yang kita cintai.

Allah berkata bahwa : Jika kita menyebut nama-Nya didalam jiwa kita dengan merendahkan diri dan penuh hormat (tadarru), maka Allah akan menurunkan rasa tenang yang mengalir kedalam jiwa kita. Jika kita mengalami keadaan ini, berarti kita bisa memahami keadaan itu secara nyata didalam jiwa kita. Jadi bukan memahami keadaan itu didalam pikiran kita. Karena keadaan itu bukanlah sesuatu yang bisa diberitahu melalui proses olah otak oleh orang lain kepada kita. Bukan…!. Itu adalah respon atau tanggapan Allah sendiri kepada kita secara langsung. Sebab Allah Yang Maha Hidup pasti akan selalu merespons apa yang kita lakukan dihadapan-Nya. Jika kita hadir, Allah juga akan hadir. Jika kita berkata, Allahpun berkata dalam bahasa-Nya yang hanya bisa dipahami oleh Jiwa kita.

Allah berfirman :
…..barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya dia akan mengadakan bagi¬nya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukup¬kan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah Telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.( QS. Ath Thalaq,65:2-3).

Ayat Al Qur’an ini adalah sebuah peta ruhani yang suasananya hanya bisa dimiliki oleh orang yang bertaqwa. Artinya orang yang belum berada pada posisi orang yang bertaqwa tidak akan dapat menangkap suasana dari proses yang sedang berlangsung seperti yang diterangkan oleh ayat ini. Oleh sebab itu, untuk mengetahui posisi kita, apakah kita ini sudah termasuk kedalam kualitas orang yang bertaqwa atau bukan, kita tinggal membandingkan keadaan jiwa kita dengan ayat Al Qur’an tersebut diatas.

Tentu kita pernah berada dalam kesulitan hidup, lalu kita berdo’a. Amatilah apa yang kita rasakan saat kita berada dalam kesulitan itu kemudian kita berdoa dan bertawakkal kepada Allah. Apakah kemudian kita langsung merasakan ada jawaban Allah kepada kita, sehingga kita mendapatkan jalan keluar dari kesulitan kita itu?. Bahkan ketika kita membutuhkan rizki yang kita inginkan, apakah kita bisa mendapatkan rizki itu dari arah yang tidak kita sangka-sangka sama sekali?.

Jika kita malah semakin menghadapi jalan buntu dan tidak ada pula jalan keluar dari permasalahan kita sesudah kita berdo’a, bolehlah kita pertanyakan kualitas jiwa kita saat itu juga. Apakah jiwa kita benar-benar sudah bening saat kita berkomunikasi dengan Allah Yang Maha mengetahui segala urusan? Sudahkah kita menundukkan jiwa kita, berserah total? Sehingga dengan begitu kita akan bisa memahami apa-apa yang diturunkan Allah kedalam jiwa kita.

Sebab Allah PASTI akan memberikan jawaban-Nya langsung kedalam hati orang beriman. Jika tidak ada jawaban, pasti ada yang salah dalam hal ini. Karena Allah tidak mungkin akan mengingkari janji-Nya (laa tukhliful mi’aad).

Untuk itu, perlulah kiranya kita memahami lebih dalam lagi tentang kadar atau tingkat kepercayaan kita kepada Allah, terutama tentang bagaimana caranya agar kita bisa menangkap signal atau getaran jawaban Allah terhadap setiap seruan dan do’a kita. Kemudian barulah signal itu kita terjemahkan dalam bentuk bahasa ataupun tindakan kita.


Namun disini pulalah biasanya muncul sebuah pertanyaan klasik didalam pikiran kita sendiri ataupun dari orang lain. Bahwa: “mungkinkah orang biasa seperti kita ini bisa menerima petunjuk Allah secara langsung? Lalu seperti apakah keadaan yang akan kita rasakan saat itu?”

Inilah dua bentuk pertanyaan yang biasanya muncul dibenak kita maupun benak orang lain. Pertanyaan yang penuh keragu-raguan yang merupakan buah dari pengajaran yang diterima umat Islam sejak dari dulu sampai sekarang. Kita memang hampir selalu dididik dengan citra rasa keragu-raguan terhadap kemampuan kita untuk saling berkomunikasi secara langsung dengan Allah. Bahwa Allah, setelah masa kerasulan Nabi Muhammad, sudah tidak pernah lagi berkomunikasi langsung dengan orang biasa seperti kita. Seakan-akan Allah sudah pensiun dan duduk manis di singasana-Nya menunggu terjadinya Hari Pembalasan.

Saat kita mengatakan bahwa kita bisa berkomunikasi langsung dengan Allah sekarang ini, dan kita bisa menangkap jawaban Allah terhadap do’a-do’a kita, maka banyak orang yang akan bertanya kepada kita:

“Hei…, atas kewenangan dari siapakah Anda berbicara seperti itu? Bukankah Anda hanya orang biasa saja, bukan nabi, bukan seseorang yang resmi punya hak untuk berkata begitu?”.
Sebenarnya untuk menjawabnya, kita bisa saja balik bertanya kepada mereka: “atas kewenangan siapa pulakah Anda bertanya seperti itu kepada saya?.

Sebab kewenangan untuk bertanya dan untuk berbicara sebenarnya adalah dua hak yang sama-sama hakikinya didalam diri kita masing-masing. Bahwa kita berani berbicara tentang sesuatu karena kita memang bisa dan mengerti tentang apa yang kita bicarakan itu.

Rasanya sudah sejak lama sekali, tidak ada lagi orang yang berani berbicara tentang hal-hal yang sebenarnya ada didalam jiwa kita. Karena kita tidak punya lagi kepercayaan terhadap diri kita sendiri. Kita jadi begitu takut dengan reaksi orang lain atas apa-apa yang kita katakan. Kita jadi terbiasa untuk tidak selaras dengan jiwa kita. Jadilah kita berkata-kata tentang sesuatu yang sebenarnya sedang tidak terjadi didalam jiwa kita.

Ya…, kita tidak lagi mengatakan hal-hal yang selaras dengan jiwa kita sendiri, sehingga kita merasa membutuhkan dunia luar atau lembaga resmi yang memberi tahu kita bahwa kita telah berada dijalur yang benar dan tepat. Stempel resmi ini kita butuhkan untuk mengesahkan posisi sipiritualitas kita didepan orang banyak. Tanpa stempel resmi itu, kita seperti tidak punya kewenangan dan keberanian untuk berbicara tentang posisi kejiwaan kita sendiri. Sementara dilain pihak kita diperintahkan untuk menyampaikan kebaikan demi kebaikan. Akan tetapi saat itu jiwa kita sendiri sedang tidak berada dalam suasana kebaikan. Tentulah itu sulit sekali…

Itulah sebabnya Allah didalam Al Qur’an berkata bahwa sangat besar kemurkaan-Nya kepada kita saat kita berkata-kata terhadap keadaan atau suasana yang tidak seirama dengan keadaan atau suasana yang ada didalam jiwa kita. Karena kalau saat berkata-kata, sementara suasana jiwa kita sendiri tidak seirama dengan perkataan kita, maka jiwa kita sendiri akan menolaknya dari dalam. “ah saya kan sedang berbohong…!”

Ya…, Jiwa kita sendiri mengatakan bahwa kita tengah berbohong, sehingga yang muncul adalah keragu-raguan kita terhadap apa-apa yang kita katakan. Dan pastilah itu tidak punya power apa-apa terhadap diri kita sendiri, apalagi terhadap orang lain. Kalau sudah begini, maka kita berarti menghalangi kematangan diri kita secara ruhani, dan sekaligus menghambat perkembangan diri kita menjadi diri yang terbaik.

Padahal, tatkala kita berhasil menjadi matang secara ruhani, maka sikap dan perkataan kita akan jadi selaras dan seirama dengan jiwa kita sendiri. Kita menjadi diri yang bisa FOKUS kepada sasaran hidup kita yang tak lain dan tak bukan adalah sebagai hamba sahaya Allah. Hamba yang siap untuk disuruh-¬suruh oleh Allah menjalankan tugas-tugas tertentu sebagai penyebab hadir¬nya kita ke dunia ini. Kita akan menjadi diri yang mampu berpartisipasi untuk membangun peradaban manusia.
Karena memang dunia ini adalah seperti sebuah layar besar tempat dimana kita bisa memproyeksikan diri kita keatasnya. Ketika kita tahu bahwa proyeksi diri kita yang muncul dilayar dunia itu kurang sempurna, kurang bagus, atau kurang berhasil, maka dengan serta merta kitapun berusaha merubah diri kita sendiri terlebih dahulu tanpa kita bermaksud ingin merubah, menyalahkan, atau mengalahkan orang lain.

Kita sendirilah yang dengan tekad yang kuat berusaha meraih kesempurnaan atau ketuntasan dalam proses perjalanan hidup kita. Dengan begitu proyeksi diri kita diatas layar panggung dunia akan menjadi seirama dengan tekad kita yang tertinggi, yaitu sebagai hamba Allah. Kita menjadi begitu terbuka dan tidak menutup diri terhadap dunia dengan segala persoalannya. Kita tidak berusaha untuk mengendalikan dunia dengan segala isi dan problematikanya. Tidak. Tetapi kita berusaha untuk menerima dunia ini apa adanya, as it is, sembari kita terus menerus mencari bimbingan langsung kepada Allah, yang telah menghadirkan kita kemuka bumi ini, agar kita bisa memberikan respon yang selaras dengan fungsi kehambaan kita.

Sebab tugas kita didunia ini bukanlah untuk mengalahkan dan menaklukkan apa-apa yang mungkin dianggap musuh oleh sementara kebanyakan orang. Kita juga tidak ditugaskan Allah untuk membuat orang lain takluk dan berada dalam kendali kita. Tidak. Tugas kita yang sejati adalah untuk selalu masuk kekedalaman jiwa kita sendiri. Masuk kedalam pusat batin kita sendiri untuk kemudian mene¬mukan kesejatian kita. Bahwa ternyata sebenarnya kita ini adalah RUH Milik Alla¬h yang diturunkan dan diutus oleh Allah kemuka bumi untuk mewakili Allah membentuk peradaban umat manusia. Peradaban yang mampu memberikan peluang sebesar-besarnya bagi siapapun juga untuk bisa belajar, bisa tumbuh dan berkembang, serta bisa berbagi dengan sesama.

Dalam posisi kehambaan seperti inilah kita akan bisa menjalani kehidupan dengan spontan seraya terus-menerus mencoba merelakan apapun yang terjadi. Kita akan bisa menerima segala keadaan, bekerja sama dengan segala keadaan, memahami segala keadaan, bersemangat terhadap segala keadaan, dan berempati atas segala keadaan. Karena jiwa kita sendiri telah mengembangkan sebuah kecerdasan untuk menyikapi segala keadaan. Sebuah hadis berikut sangat pas untuk menggambarkan keadaan ini.

Ittaquu firasatal mukmin, fa innahu yandhuru binurillah : Percayalah dengan Firasat orang beriman, karena Ia melihat dengan Cahaya Allah. ( Al hadist )

Bersambung



Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.