Halloween party ideas 2015
Tampilkan postingan dengan label Humor. Tampilkan semua postingan

Alkhusyu - Abu Nawas sebenarnya adalah seorang ulama yang alim. Tak begitu mengheran­kan jika Abu Nawas mempunyai murid yang banyak.

Diantara sekian banyak muridnya, ada satu orang yang hampir selalu menanyakan mengapa Abu Nawas mengata­kan begini dan begitu. Suatu ketika ada tiga orang tamu bertanya kepada Abu Nawas dengan pertanyaan yang sama. Orang pertama mulai bertanya;


“Manakah yang lebih utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil?”
“Orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil.”jawab Abu Nawas.
“Mengapa ?” kata orang pertama.
“Sebab lebih mudah diampuni oleh Tuha­n.” kata Abu Nawas.
Orang pertama puas karena ia memang yakin begitu.

Orang kedua bertanya dengan pertanyaan yang sama.
“Orang yang tidak mengerjakan keduanya”. Jawab Abu Nawas.
“Mengapa?” kata orang kedua.
“Dengan tidak mengerjakan kedua­nya, tentu tidak memerlukan pengampunan dari Tuhan”. kata Abu Nawas.
Orang kedua langsung bisa mencerna dan memahami jawaban Abu Nawas tersebut.

Orang ketiga pun bertanya dengan pertanyaan yang sama seperti diatas. Abu Nawas lalu menjawab; “Orang yang mengerjakan dosa-dosa besar”.
“Mengapa?” kata orang ketiga.
“Sebab pengampunan Allah kepada hambaNya sebanding dengan besarnya dosa hamba itu”. jawab Abu Nawas.

Karena belum mengerti seorang murid Abu Nawas bertanya.
“Mengapa dengan pertanyaan yang sama bisa menghasilkan jawaban yang berbeda?”.
“Manusia itu dibagi tiga tingkatan. Tingkatan mata, tingkatan otak, dan tingkatan hati”.
“Apakah tingkatan mata itu?” tanya murid Abu Nawas. “Anak kecil yang melihat bintang dilangit, ia mengatakan bintang itu kecil karena ia hanya menggunakan mata”.
“Apakah tingkatan otak?” tanya murid Abu Nawas.
“Orang pandai yang melihat bintang, ia mengatakan bintang itu besar karena ia memiliki pengetahuan.” jawab Abu Nawas.
“Lalu apakah tingkatan hati itu?” tanya murid Abu Nawas.
“Orang pandai dan mengerti yang melihat bintang di langit. Ia tetap mengata­kan bintang itu kecil walaupun tahu bintang itu besar. Karena bagi orang yang mengerti tidak ada sesuatu apapun yang besar, melainkan dengan ke Maha Besaran Allah.”
kini murid Abu Nawas mulai mengerti mengapa pertanyaan yang sama bisa menghasilkan jawaban Yang berbeda. 

Ia bertanya lagi.
“Wahai guru, mungkinkah manusia bisa menipu Tuhan?”
“Mungkin” jawab Abu Nawas.
“Bagaimana caranya?” tanya murid Abu Nawas ingin tahu.
“Dengan merayuNya melalui pujian dan doa.” kata Abu Nawas.
“Ajarkanlah doa itu padaku wahai guru.” pinta murid Abu Nawas.
“Doa itu adalah:
Ilahi lastu lil firdausi ahla, wala aqwa ‘alan naril jahimi, fahabli taubatan waghfir dzunubi, fa innaka ghafiruz dzanbil ‘azhimi.

Artinya :
“Wahai Tuhanku, aku ini tidak pantas menjadi penghuni surga, tetapi aku tidak akan kuat terhadap panasnya api neraka. Oleh sebab itu terimalah tobatku serta ampunilah dosa-dosaku. Karena sesungguhnya Engkaulah Zat yang mengampuni dosa-dosa besar.” 

Alkhusyu - Hari itu puasa Ramadhan menjelang hari keenam. Seperti biasa, Abu Nawas duduk di beranda depan gubugnya sambil menunggu bedug maghrib tiba. Sambil memandang langit biru yang mulai nampak senja, Abu Nawas berpikir bagaimana agar dapur rumahnya tetap mengepul.

Sementara itu ada seorang tuan tanah yang rumahnya tak jauh dari rumah Abu Nawas. Sebagai tuan tanah tentu saja mempunyai rumah yang besar. Lengkap dengan seperangkat gudang makanan, lahan peternakan dan kamar. Hampir setiap orang yang berada didaerah itu bahkan Abu Nawas sendiri bekerja dengan tuan tanah itu, bekerja keras setiap hari tetapi dengan hasil yang sedikit. Dan bila meminjam uang pada dirinya maka harus mengembalikan dengan bunga yang sangat tinggi. Dan sebagaimana tuan tanah, dia mempunyai sifat yang pelit, kikir, tamak dan loba.

Tuan tanah ini mendengar kabar bahwa Abu Nawas mempunyai suatu kepandaian yang aneh. Bila ia meminjam sesuatu maka akan dikembalikan secara lebih, katanya pinjamannya itu beranak. Seperti meminjam seekor ayam maka ayam itu akan dikembalikan dua karena ayam itu beranak. Menarik juga kepandaian Abu Nawas ini pikir sang tuan tanah. Tuan tanah lalu berpikir agar Abu Nawas segera meminjam darinya.

Secara kebetulan sore itu Abu Nawas ingin meminjam 3 butir telur kapada tuan Tanah itu. Tuan tanah tentu saja senang memberikan pinjaman kepada Abu Nawas karena pinjaman itu akan menjadi banyak karena beranak. Malahan tuan tanah itu menanyakan kepada Abu Nawas apakah ingin meminjam yang lain. Abu Nawas menjawab tidak perlu. Dia hanya butuh 3 butir telur. Tuan tanah itu bertanya lagi dengan Abu Nawas kapan telur itu akan beranak?

Abu Nawas menjawab itu tergantung dengan keadaan. Lima hari kemudian, Abu Nawas kembali ke rumah tuan tanah itu. Mengembalikan telur menjadi 5 butir. Melihat 5 butir telur betapa senangnya Tuan tanah itu. Tuan tanah lalu menanyakan kepada Abu Nawas apakah ia akan meminjam lagi. Abu Nawas lalu meminjam piring tembikar sebanyak 2 buah. Tuan tanah itu memberikan dengan senang hati dan berharap piringnya itu menjadi banyak.

Lima hari kemudian Abu Nawas datang dengan membawa 3 piring tembikar. Walaupun tidak sesuai dengan yang diharapkan, tetapi hatinya cukup gembira karena dua piring dulu hanya melahirkan 1 anak saja. Tak apa pikir sang tuan tanah karena bisa saja orang mempunyai anak tunggal bahkan tidak memiliki anak.

Abu Nawas dan Tuan tanah itu sama – sama senang. Maka dari itu tuan tanah itu meminjamkan uang senilai 1000 dinar. Jumlah yang sangat besar, gaji buat seluruh karyawan dan pekerjanya selama 1 bulan. Tuan tanah itu berangan – angan bahwa uang yang dipinjam Abu Nawas nanti akan diapakan karena akan banyak beranak. Tuan tanah itu menanti dengan tidak sabar. Ditunggu selama lima hari, Abu Nawas tidak kunjung datang. Hampir satu bulan, Abu Nawas juga tidak datang. Saat tuan tanah akan mendatangi rumah Abu Nawas dengan centengnya, Abu Nawas datang. Mulanya tuan tanah gembira tapi sesudah Abu Nawas menjelaskan persoalannya, bukan main marahnya tuan tanah itu.

“Sayang sekali tuan. Uang yang saya pinjam itu, bukannya beranak, malah tiga hari kemudian mati mendadak. ”Mendengar kata- kata itu betapa geramnya tuan tanah. Hampir saja Abu Nawas dihajar centeng tuan tanah. Untung saja ada teman – teman Abu Nawas yang baru pulang dari bekerja melerai.

Tuan tanah itu mengadukan kepada pengadilan. Tuan tanah itu berharap Abu Nawas akan digantung atau bahkan dihukum rajam. Dan, pengadilan pun digelar. Abu Nawas membeberkan semua duduk permasalahanya. Demikian juga tuan tanah itu menjelaskan.
Pengadilan pun memutuskan cukup rasional (masuk akal). Kalau sesuatu bisa beranak sudah pasti bisa mati. Dan Abu Nawas telah menjalankan lakonnya dengan baik. Adapun tuan tanah yang tamak itu telah tertipu karena wataknya sendiri yang kikir, tamak, pelit.



 udah lama Abunawas tidak dipanggil ke istana untuk menghadap Baginda. Abunawas juga sudah lama tidak muncul di kedai teh. Kawan-kawan Abunawas banyak yang merasa kurang bergairah tanpa kehadiran Abunawas. Tentu saja keadaan kedai tak semarak karena Abunawas si pemicu tawa tidak ada.
Suatu hari ada seorang laki-laki setengah baya ke kedai teh menanyakan Abunawas. La mengeluh bahwa ia tidak menemukan jalan keluar dari masalah pelik yang dihadapi. Salah seorang teman Abunawas ingin mencoba menolong. “Cobalah utarakan kesulitanmu kepadaku barang-kali aku bisa membantu.” Kata kawan Abunawas.
“Baiklah. Aku mempunyai rumah yang amat sempit. Sedangkan aku tinggal bersama istri dan kedelapan anak-anakku. Rumah itu kami rasakan terlalu sempit sehingga kami tidak merasa bahagia.” kata orang itu membeberkan kesulitannya. Kawan Abunawas tidak mampu memberikan jalan keluar, juga yang lainnya. Sehingga mereka menyarankan agar orang itu pergi menemui Abunawas di rumahnya saja.
Orang itu pun pergi ke rumah Abunawas. Dan kebetulan Abu Nawas sedang mengaji. Setelah mengutarakan kesulitan yang sedang dialami, Abunawas bertanya kepada orang itu.
“Punyakah engkau seekor domba?”
“Tidak tetapi aku mampu membelinya.” jawab orang itu.
“Kalau begitu belilah seekor dan tempatkan domba itu di dalam rumahmu.” Abunawas menyarankan. Orang itu tidak membantah. la langsung membeli seekor domba seperti yang disarankan Abunawas.
Beberapa hari kemudian orang itu datang lagi menemui Abu Nawas. “Wahai Abunawas, aku telah melaksanakan saranmu, tetapi rumahku bertambah sesak. Aku dan keluargaku merasa segala sesuatu menjadi lebih buruk dibandingkan sebelum tinggal bersama domba.” kata orang itu mengeluh.
“Kalau begitu belilah lagi beberapa ekor unggas dan tempatkan juga mereka di dalam rumahmu:” kata Abunawas. Orang itu tidak membantah. la langsung membeli beberapa ekor unggas yang kemudian dimasukkan ke dalam rumahnya.
Beberapa hari kemudian orang itu datang lagi ke rumah Abu Nawas.”Wahai Abu Nawas,aku telah melaksanakan saran-saranmu dengan menambah penghuni rumahku dengan beberapa ekor unggas. Namun begitu, aku dan keluargaku semakin tidak betah tinggal di rumah yang makin banyak penghuninya. Kami bertambah merasa tersiksa.” kata orang itu dengan wajah yang semakin muram.
“Kalau begitu belilah seekor anak unta dan peliharalah di dalam rumahmu.”kata Abu Nawas menyarankan Orang itu tidak membantah. la langsung ke pasar hewan membeli seekor anak unta untuk dipelihara di dalam rumahnya.
Beberapa hari kemudian orang itu datang lagi menemui Abunawas. la berkata, “Wahai Abunawas, tahukah engkau bahwa keadaan di dalam rumahku sekarang hampir seperti neraka. Semuanya berubah menjadi lebih mengerikan dari pada hari-hari sebelumnya. Wahai Abu Nawas, kami sudah tidak tahan tinggal serumah dengan binatang-binatang itu.” kata orang itu putus asa.
“Baiklah, kalau kalian sudah merasa tidak tahan maka juallah anak unta itu.” kata Abunawas. Orang itu tidak membantah. la langsung menjual anak unta yang baru dibelinya.
Beberapa hari kemudian Abunawas pergi ke rumah orang itu “Bagaimana keadaan kalian sekarang?” Abunawas bertanya.
“Keadaannya sekarang lebih baik karena anak unta itu sudah tidak lagi tinggal disini.” kata orang itu tersenyum.
“Baiklah, kalau begitu sekarang juallah unggas-unggasmu.” kata Abunawas. Orang itu tidak membantah. la langsung menjual unggas-unggasnya.
Beberapa hari kemudian Abunawas mengunjungi orang itu. “Bagaimana keadaan rumah kalian sekarang ?” Abunawas bertanya.
“Keadaan sekarang lebih menyenangkan karena unggas-unggas itu sudah tidak tinggal bersama kami.” kata orang itu dengan wajah ceria.
“Baiklah kalau begitu sekarang juallah domba itu.” kata Abunawas. Orang itu tidak membantah. Dengan senang hati ia langsung menjual dombanya.
Beberapa hari kemudian Abunawas bertamu ke rumah orang itu. la bertanya, “Bagaimana keadaan rumah kalian sekarang?”
“Kami merasakan rumah kami bertambah luas karena binatang-binatang itu sudah tidak lagi tinggal bersama kami. Dan kami sekarang merasa lebih berbahagia daripada dulu. Kami mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepadamu hai Abu Nawas.” Kata orang itu dengan wajah berseri-seri.
“Sebenarnya batas sempit dan luas itu tertancap dalam pikiranmu. Kalau engkau selalu bersyukur atas nikmat dari Tuhan, maka Tuhan akan mencabut kesempitan dalam hati dan pikiranmu.” kata Abu Nawas menjelaskan.
Dan sebelum Abu Nawas pulang, ia bertanya kepada orang itu,
“Apakah engkau sering berdoa ?”
“Ya.” jawab orang itu.
“Ketahuilah bahwa doa seorang hamba tidak mesti diterima oleh Allah karena manakala Allah membuka pintu pemahaman kepada engkau, ketika Dia tidak memberi engkau, maka ketiadaan pemberian itu merupakan pemberian yang sebenarnya.”


Untuk lengkapnya, dapatkan majalah Al Khusyu' disini (Isi Formulir Belanja) atau hubungi agen sirkulasi terdekat atau telpon langsung ke:  Jln Kemang Sari IV No 5 Jatibening Baru Pondok Gede Bekasi Telp 021-849 78843 / 021-849 78836

Tiga orang musafir, bertemu dan  menjadi sahabat dalam perjalanan yang tak berujung. Lelah adalah bagian dari perjalanan mereka. Boleh dibilang, gembira dan duka mereka rasakan bersama. Kalau perlu, nangis juga barengan.
 
Hingga sekali waktu,  mereka mulai menyadari bahwa yang kini mereka miliki Cuma  sepotong roti dan seteguk air di kendi. 
Disinilah watak asli mereka muncul. Mereka mulai  berdebat dan bertengkar soal  siapa yang lebih berhak menikmati bekal terakhir itu. Karena tidak berhasil mencapai kesepakatan, akhirnya mereka memutuskan untuk membagi saja makanan dan minuman itu menjadi tiga bagian. Tentu saja  sulit mencapai kesepakatan itu karena bekal itu sangat minim. Lha, air saja tinggal seteguk.
 
Mereka terus berdebat hingga malam  tiba. Salah seorang mengusulkan agar mereka tidur saja.Awalnya usulan itu ditolak karean  satu dan lainnya saling curiga. Tapi pada akhirnya  mereka punya kesepakatan.
“Besok pagi,  orang yang  mendapatkan mimpi yang paling menakjubkan akan menentukan apa yang harus dilakukan dengan roti dan air itu. Deal or not deal?” jelasnya.
 
Dengan  agak ragu mereka pun setuju dengan usulan itu.
“ Deal.”
“ Oke.. setuju,”jawab yang lainnya.
Ketiga pengelana itu pun tidur dengan nyenyaknya. Senyum-senyum manis tersungging dari mulut mereka, seolah yakin kalau mimpi itu akan datangnya.
 
Waktu berputar hingga  matahari mulai munyembul di ufuk Timur, menggeser  malam menjadi pagi. Ketiganya pun bangun dengan  sumringah. Dan tanpa tedeng aling-aling mereka mulai menceritakan mimpi mereka.
“Inilah mimpiku,” kata yang pertama. “Aku berada di tempat-tempat yang tidak bisa digambarkan, karena begitu indah dan tenang. Aku berjumpa dengan seorang bijaksana yang mengatakan kepadaku, ‘Kau berhak makan makanan itu, sebab kehidupan masa lampau dan masa depanmu berharga, dan pantas mendapat pujian,”katanya bangga. Kedua orang lainnya menunjukan wajah tak setuju.
“Aneh sekali,” kata musafir kedua menunjukan ketidaksetujuannya.
“ Aneh, apa maksudmu?” tanya musafir pertama tidak senang dengan pandangan musafir ke-2.
“Sebab dalam mimpiku, aku jelas-jelas melihat segala masa lampau dan masa depanku. Dalam masa depanku, kulihat seorang lelaki maha tahu, berkata, ‘Kau berhak akan makanan itu lebih dari kawan-kawanmu, sebab kau lebih berpengetahuan dan lebih sabar. Kau harus cukup makan, sebab kau ditakdirkan untuk menjadi penuntun manusia,” jelasnya dengan penuh bangga dan egois.
Kedunay  lantas berdebat keras disaksikan musafir ketiag yang cuam  cengar cengir saja.
”Heh, kenapa  kamu cengar cengir?” hardik musafir ke satu.
”Memangnya apa sih mimpimu?” selidik musafir kedua.
Musafir masih senyum-senyum saja. Lalu kedua musafir itu menanyakan lagi mimpi musafir ketiga.
“Terus kamu sendiri mimpi apa?” tanya musafir kedua.
“ Aku lihat kamu tenang-tenang saja. Mimpi apa kamu?” pinta musafir kedua.
Musafir ketiga pun menceritakan mimpinya.
“begini ceritanya. Dalam mimpiku aku tak melihat apapun. Tak ada kata sedikit pun. Aku hanya merasakan suatu kekuatan dahsyat yang memaksaku untuk bangun, mencari roti dan air itu. Lalu memakannya dengan penuh kenimatan di situ juga. Nah, itulah yang kukerjakan semalam.”
Musafir pertama dan kedua kaget dan  bengong mendengar cerita mimpi musafir ketiga.
“Hah…?” keduanya tercekat.
 
Inilah potret 3 manusia yang mempunyai ego yang sangat tinggi. Mereka hanya memikirkan diri sendiri, tanpa mau memikirkan orang lain. Bagi mereka kesenangan sendiri lebih berarti daripada kebaikan  orang lain. Demi mendapatkan keinginan mereka rela melakukan apa saja, bahkan sampai menjual harga diri. Seakan-akan dirinya  paling benar. Gambaran orang-orang egois ini nyatanya masih bertebaran disekitar kita. Wan, dari pelbagai sumber)

Untuk lengkapnya, dapatkan majalah Al Khusyu' disini (Isi Formulir Belanja) atau hubungi agen sirkulasi terdekat atau telpon langsung ke:  Jln Kemang Sari IV No 5 Jatibening Baru Pondok Gede Bekasi Telp 021-849 78843 / 021-849 78836

Syahdan, Khalifah Harun Al-Rasyid marah besar pada sahibnya yang karib dan setia, yaitu Abu Nawas. Ia ingin menghukum mati Abu Nawas setelah menerima laporan bahwa Abu Nawas mengeluarkan fatwa tidak mau rukuk dan sujud dalam salat.
Lebih lagi, Harun Al-Rasyid mendengar Abu Nawas mengatakan bahwa dirinya khalifah yang suka fitnah! Menurut pembantu-pembantunya, Abu Nawas layak dipancung karena melanggar syariat Islam dan menyebar fitnah.
 
Khalifah mulai terpancing. Tapi untung ada seorang pembantunya yang memberi saran, hendaknya Khalifah melakukan tabayun (konfirmasi). Abu Nawas pun digeret menghadap Khalifah. Kini, ia menjadi pesakitan.
 
“Hai Abu Nawas, benar kamu berpendapat tidak rukuk dan sujud dalam salat?” tanya Khalifah ketus.
Abu Nawas menjawab dengan tenang, “Benar, Saudaraku.”
 
Khalifah kembali bertanya dengan nada suara yang lebih tinggi, “Benar kamu berkata kepada masyarakat bahwa aku, Harun Al-Rasyid, adalah seorang khalifah yang suka fitnah?”
Abu Nawas menjawab, ”Benar, Saudaraku.”
Khalifah berteriak dengan suara menggelegar, “Kamu memang pantas dihukum mati, karena melanggar syariat Islam dan menebarkan fitnah tentang khalifah!”
Abu Nawas tersenyum seraya berkata, “Saudaraku, memang aku tidak menolak bahwa aku telah mengeluarkan dua pendapat tadi, tapi sepertinya kabar yang sampai padamu tidak lengkap. Kata-kataku dipelintir, dijagal, seolah-olah aku berkata salah.”
Khalifah berkata dengan ketus, “Apa maksudmu? Jangan membela diri, kau telah mengaku dan mengatakan kabar itu benar adanya.”
 
Abu Nawas beranjak dari duduknya dan menjelaskan dengan tenang, “Saudaraku, aku memang berkata rukuk dan sujud tidak perlu dalam shalat, tapi dalam shalat apa? Waktu itu aku menjelaskan tata cara shalat jenazah yang memang tidak perlu rukuk dan sujud.”
“Bagaimana soal aku yang suka fitnah?” tanya Khalifah.
Abu Nawas menjawab dengan senyum, “Kalau itu, aku sedang menjelaskan tafsir ayat 28 surat Al-Anfal, yang berbunyi ketahuilah bahwa kekayaan dan anak-anakmu hanyalah ujian bagimu. Sebagai seorang khalifah dan seorang ayah, anda sangat menyukai kekayaan dan anak-anak, berarti anda suka ’fitnah’ (ujian) itu.”
 
Mendengar penjelasan Abu Nawas yang sekaligus kritikan, Khalifah Harun Al-Rasyid tertunduk malu, menyesal dan sadar. Rupanya, kedekatan Abu Nawas dengan Harun Al-Rasyid menyulut iri dan dengki di antara pembantu-pembantunya. Abu Nawas memanggil Khalifah dengan “ya akhi” (saudaraku). Hubungan di antara mereka bukan antara tuan dan hamba. Pembantu-pembantu khalifah yang hasud ingin memisahkan hubungan akrab tersebut dengan memutarbalikkan berita.  Sumber: Sufi News

Untuk lengkapnya, dapatkan majalah Al Khusyu' disini (Isi Formulir Belanja) atau hubungi agen sirkulasi terdekat atau telpon langsung ke:  Jln Kemang Sari IV No 5 Jatibening Baru Pondok Gede Bekasi Telp 021-849 78843 / 021-849 78836

Satu hari, kami sekeluarga kedatangan seorang sanak keluarga. Namanya Amir yang sengaja bertandang ke rumah kami. Kami senang dengan kedatangan Amir yang memang sudah lama tak bersilaturahim.

Amir banyak bertutur tentang segala hal. Ia pandai bercerita hingga kami asik mendengarnya. Apalagi kala ia berkisah tentang kenikmatannya mengikuti pesantren kilat di kantornya yang bahasannya tentang kekhusyuan shalat.
”Untuk mendapatkan khusyu, shalat jangan tergesa gesa. Shalat itu kan pertemuan kaum muslim pada Sang Khaliq. Sabar dan nikmati......”katanya serius pada kami yang terpaku kala mendengar tuturannya, ” dan sujud adalah saat terdekat kita pada Allah...”

Ketiga adzan maghrib terdengar Amir mengajak kami untuk shalat maghrib berjama’ah.
“ Kita shalat maghrib berjama’ah ya...? Aku jadi imamnya. Sekalian mempraktekan apa yang saya bilang tadi”
Kami pun setuju. Tak sabar mengikuti kekhusyuan yang konon telah ia gapai. Shalat maghrib dimulai dengan Amir sebagai imamnya.
“ Allahu Akbar...”

Rakaat pertama berjalan dengan lancar. Kami mengikuti dengan penuh khusyu. Kami sabar mengikuti semua gerakan Amir untuk mencapai khusyu. Namun saat memasuki sujud di rakaat kedua sujudnya begitu lama. Dan kami, terutama saya berpikir mungkin saat itu Amir sangat merasakan kedekatan pada Allah hingga sujudnya begitu lama. Kami terus mengikuti sambil berupaya merasakan apa yang sudah digapai Amir.
Tapi tunggu punya tunggu Amir belum juga menyelesaikan sujudnya meski sudah lima belas menit berlalu. Jujur saja saat itu kami pun mulai tidak nyaman, meski kami berupaya mendoktrin hati dan pikiran bahwa Allah sedang dekat dengan kita.

“Aduh..lama amat sih sujudtnya,” ucapku dalam hati sambil merasakan kesemutan yang mulai menjalar kakiku. Dan aku pikir yang lain pun merasakan hal yang sama. Apalagi kerap terdengar suara kegelisahan. Tapi untuk kesekian kalinya aku berupaya tetap khusyu sebagaimana yang diajarkan Amir. Tapi kesemutan ini makin gila menyerangku.

Aku pun tak tahan lagi. “Kok sujudnya lama banget sih? Apa sih yang dibaca? Ini baru rakaat pertama bagaimana dengan rakaat selanjutnya? Alaa, Mak!” kataku dalam hati. Dari arah kiri kananku terdengar lenguhan menahan sakit. Lalu karena tak tahan aku pun memberanikan diri untuk mengintip Amir. Penasaran saja kenapa sujutnya begitu lama.

Aku pun mengintip. Astaghfirullah, gak salah lihat nih. Ternyata Amir sang imam tidak ada di tempatnya. Hilang bagai ditelan bumi.
“Astagfirullah al adzim,” kataku seraya bangun dari sujud. Mendengar aku beristighfar, yang lain serentak bangun dari sujud.
“Kenapa, Aa…?” tanya adikku.
Aku pun menunjuk tempat Imam. “Amirnya kemana? Kok ga ada?”
Semua terperangah. Baru sadar kalau Amir raib. Kami saling berpandangan dengan pikiran tak mengerti.
“Pantesin sujudnya lama…”gerutu adikku. Lalu kami pun melanjutkan shalat dengan aku sebagai imamnya.”Karena kita sudah berbicara, shalat kita mulai dari rakaat awal ya...”
Sesaat kemudian kami pun menyelesaikan shalat magrib. Kala mau berdoa, tiba-tiba muncul Amir dengan wajah tidak bersalah sambil memukul-mukul perutnya dengan tangannya.
“Alhamdulillah. Lega rasanya,” katanya tanpa bersalah.
“Lho….dari mana Mir..?”tanyaku.
”Belakang...Sory ya ga bilang bilang. Ga tahan....” katanya tanpa penyesalan sedikit pun. Astaghfirullah.....ternyata si Amir menghilang karena sakit perut. Kami lemes mendengarnya.
”Yuk lanjutin shalatnya...”

Kami pun saling berpandangan lagi. Beginilah kalau orang yang tak faham adab adab menjadi imam, sebagaimana yang termaktub dari Abu Hurayrah ra: Berkata Rasulullah saw.: “Apabila salah satu di antara kalian shalat, kemudian ia mimisan [keluar darah dari hidung], atau muntah-muntah, maka letakkan tangan pada mulut, dan lihatlah seorang lelaki di antara kaum [para makmum] yang tidak ketinggalan sesuatu apapun [dari shalatnya], kemudian menariknya ke depan [untuk menggantikannya sebagai imam], dan ia bergegas wudhu kemudian datang kembali dan meneruskan shalatnya selama ia tidak berbicara. Apabila ia telah berbicara maka ia mengulangi shalatnya”. [HR. Adduruquthny] Amir...Amir...he...he... (Iwan)

 Untuk lengkapnya, dapatkan majalah Al Khusyu' volume 1 disini (Isi Formulir Belanja) atau hubungi agen sirkulasi terdekat atau telpon langsung ke:
Jln Kemang Sari IV No 5 Jatibening Baru Pondok Gede Bekasi
Telp 021-849 78843 / 021-849 78836
Diberdayakan oleh Blogger.