Halloween party ideas 2015

Al khusyu- Seluruh Nabi mengajak manusia mengenal Allah dan bergantung kepada -Nya. Ajaran yang sangat sederhana, tetapi menjadi tidak sederhana. Kita menjadi penat dalam berkeTuhanan. Kita menjadi bingung karena uraian tentang Tuhan terlalu berliku-liku. Seharusnya kita ber-Tuhan seperti para Sahabat :Bilal ra, seperti Umar bin Khattab ra,seperti Khalid bin Walid ra atau seperti tukang sihir Fir'aun yang berkata "amantu bi rabbi Musa wa Harun" :" Aku beriman kepada Tuhannya Musa dan Harun ".

Mengapa mereka sangat sederhana dalam percaya kepada Allah. Dimana perbedaan mereka dengan kita ? Sebab mereka berasal dari kalangan musyrikin yang menyaksikan Tuhan-Tuhan mereka telah terkalahkan oleh kekuatan para Rasul yang ber-Tuhankan  Allah, kemudian mereka menyaksikan secara langsung kekuatan Tuhan-Tuhan yang dianggap paling hebat ternyata tidak mampu berbuat apa-apa dan dapat dihancurkan oleh para utusan Allah ini.

Nah, disaat mereka goyah dan ragu atas Tuhan yang selama ini mereka puja dan sembah, hatinya berpindah kepada Tuhan-nya Musa as,Harun as,dan Muhammad SAW. "amantu bi rabbi musa wa harun" ( kalimat ini disampaikan oleh tukang sihir Fir'aun karena sihirnya dikalahkan oleh kekuatan Allah-nya Musa dan Harun) tanpa ia sadari hatinya sudah lepas dan menolak kekuatan sihir yang ia 
miliki yang berasal dari kekuatan iblis.



Ketika ia menolak itulah iman yang sesungguhnya menjadi keadaan jiwa mereka. Demikian pula para sahabat ketika masuk Islam, mereka telah menyaksikan kekuatan Tuhan yang selama ini disembah dan dipuja telah runtuh oleh kekuatan Tuhannya muhammad SAW !! Setelah mereka sadar atas kekalahan para Tuhan mereka, lalu mereka bertanya kepada Rasulullah, bagaimana caranya Aku ber-Tuhan kepada Allah padahal aku tidak mampu melihat-Nya. 

Allah berfirman : 

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.

Kemudian Allah berfirman : 
وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ
“Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” [QS. Qaaf : 16].

“Dari Abi Musa Radhiallahu ‘anhu ia berkata: Kami pernah bersama Rasulullah dalam suatu perjalanan, kemudian orang-orang mengeraskan suara takbir mereka, maka Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Wahai para manusia, kasihanilah dirimu dan rendahkanlah suaramu! sesungguhnya kamu tidak sedang menyeru Zat yang tuli (pekak) dan tidak juga yang jauh. Sesungguhnya kamu sedang menyeru Yang Maha Mendengar lagi Maha Dekat.” (Riwayat al-Bukhori, 3/1091, hadis no: 2830. DanMuslim, 4/2076, hadis no: 2704). Dia ada sangat dekat bersama kita, innallaha ma'ana !! Wahuwa ma'akum ainama kuntum .

Dimana perbedaan mereka dengan kita. Mereka beriman kepada Allah disebabkan hatinya telah hancur dan kecewa terhadap Tuhan-Tuhan yang selama ini mereka puja dan sembah."

Sedangkan kita masuk Islam bukan alasan kekecewaan terhadap apa-apa yang kita puja dan sembah, kita masih mengagumi berhala-berhala dalam hati kita. Hati kita masih berisi kemusyrikan baik kecil maupun besar. Kita belum masuk Islam dengan sesungguhnya. Kita hanya terpaksa harus ber-islam akibat orang tua yang sudah Islam. Kita keturunan islam bukan islam yang sebenarnya. 

Mari kita tengok hati kita pagi ini, sudahkan kita kecewa dengan apa yang kita kagumi selain Allah. Sudahkah kita goyah dengan apa yang kita bergantung kepadanya. Sudahkah kita berpindah hati secara tuntas kepada Allah sehingga kita berkata :Amantu bi rabbi Musa wa Harun !!

Atau kita berkata Aku menyaksikan kebenaran Allah dan Muhammad !! Seperti disaat Hushain bin Mudzir Al Khaza'I masuk islam karena ia telah kecewa dengan Tuhan-Tuhan yang selama ini ia puja, kemudian ia bersimpuh dihadapan Rasulullah SAW dan ia ucapkan dua kalimat syahadat.

Ketika ia percaya secara tuntas tanpa kemusyrikan sama sekali ia berhak mendapatkan ilmu ilham !! Ia boleh “berbicara” dengan Allah, ia akan mendapatkan bimbingan langsung dari Allah berupa hidayah melalui al himni rusydi wa qinii syarran nafsi : (“Ya Allah, ilhamkanlah kepadaku kecerdasan dan lindungilah aku dari kejahatan nafsuku.”(Abu Sangkan).



Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.