Halloween party ideas 2015
Tampilkan postingan dengan label Assalamualaikum Ustad. Tampilkan semua postingan

Al khusyu-IBU FULANAH: Bismillah: Assalamu'alaikum.. Pa ust Abu.. saya mau bertanya.. dulu yang aktif saya pergunakan adalah otak, sehingga semua selalu dipikir.. direncanakan, terburu-buru dan berusaha sempurna dengan orientasi dunia tentunya.. sekarang saya belajar untuk lebih sering melihat dan merasakan hati sebelum melakukan sesuatu (semakin terlihat banyaknya dosa saya selama ini, astagfirulloh..).. hal tsb membuat pikiran saya suka blank dan nerima apa adanya. kadang saya merasa khawatir karena lebih nyantai menjalani kehidupan.. bagaimana caranya supaya antara hati, pikiran, perkataan dan perbuatan bisa singkron dan seimbang di jalan Allah…. Terutama dalam sholat dan menjalani kehidupan dalam menunaikan tugas sebaga hamba Allah dalam beberapa peranan di dunia ini? Mohon penjelasannya.. punten saya masih awam dan pemula dalam pengajaran ini.. terimakasih..

ABU SANGKAN: Wa'alaikum salam, Berfikir didalam Alqur'an sangat ditegaskan untuk difungsikan yaitu dalam perintahNya Afala tatafakkarun, Afala ta'qilun, afala tatadabbarun. Tidakkah engkau fikirkan, tidakkah engkau fungsikan akalmu,tidakkah engkau tadabburi penciptaan alam semesta ini? Dalil inilah yang menjadi dasar pemikiran ibnu Rusyd yaitu;  Allah tidak merubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang merubah nasibnya (QS. Ar Rad :11) .


Sungguh perintah yang sangat tegas bahwa akal dan logika wajib digunakan. Pemikiran ibnu Rusyd yang mengedepankan akal dan logika dalam bekerja dan berusaha dipakai oleh orang Barat, Ibnu Rusyd atau Averroes dikenal oleh kalangan barat karena cara berpikirnya yang mengedepankan dalam berpikir logis.

Sedangkan pemikiran Imam Al Ghazali diambil dari ayat : Wamanyataqillah yaj'alahu makhroja wayarzukhu min haitsu la yahtasib waman yatawakkal 'alallah fahuwa hasbuh (QS. At Thalaq :2-3) . Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, maka Allah akan memberikan jalan keluar dan Allah memberikan rejeki dari arah yg tidak disangka-sangka,dan barangsiapa yg bertawakal kepada Allah atau pasrah total maka Allah akan mencukupi seluruh keperluannya.

Ayat al Qur'an yang menjadi inspirasi ibnu Rusyd dan al Ghazali seolah-olah bertentangan,yang satu berusaha dengan segala upaya pemikiannya untuk berhasil. Allah tidak merubah suatu kaum sehingga kaum itu merubah nasibnya sendiri. Sedangkan yang satu barangsiapa yang pasrah kepada Allah maka Allah akan memberikan jalan keluar dan rejeki dari arah yang tidak disangka-sangka.

Kedua ayat diatas sepertinya bertentangan ,padahal tidak! Kedua ayat tersebut memiliki dimensi yg berbeda dan cara kerja yg berbeda . Selama anda mempunyai fikiran maka bekerjalah 100 persen menggunakan daya pikir dan runutan ilmu yang benar.

Selama anda mempunyai hati dan iman maka 100 persen engkau gunakan kepercayaan dan keimananmu kepada Allah sebagai tanda taqwa adanya kekuasaan Allah. Tanpa disadari orang-orang barat akhirnya mengakui adanya dimensi ruhani yang lebih tinggi daripada dimensi fikiran, menurut Danah Zohar ini yg disebut Spiritual Quation. Kita harus menggunakan fikirannya 100 persen dalam bekerja dan menggunakan keyakinan kepada Allah 100 persen. Tidak boleh dipisah. Coba mari kita contoh laba-laba ia bekerja membuat jaring-jaring dengan sangat baik dan sempurna,namun setelahnya ia diam hanya menunggu dengan berserah rejeki yang akan datang,mengapa kita tidak mencontoh laba-laba didalam bekerja dan mempraktekkan ibnu Rusyd dan al Ghazali sekaligus dalam hidup kita. Wallahu a'lam bishawab

(Abu Sangkan)



Alkhusyu - Saran saya, mintalah petunjuk atau hidayah langsung kepada Allah SWT, melalui ibadah shalat dan zikir. Bila Anda ingin terus berthariqah , jadikanlah thariqah shalat sebagai the way of life. Lakukanlan shalat dengan sungguh-sungguh, tentu Anda akan menemui Tuhan dengan selamat. Tidak ada keraguan atas thariqah yang satu ini. Keberadaan Anda dalam thariqah shalat akan diterima di seluruh kalangan umat islam. Namun setelah itu, shalat Anda tidak akan mendapatkan manfaat apa-apa, jika dalam melakukannya tidak mengerti ilmunya. Karena itu, idealnya dalam shalat juga harus mengerti dan memahami ilmunya.

Saya pribadi justru ingin melestarikan thariqah shalat. Alasannya, karena shalat merupakan mi’rajnya orang mukmin dan sebagai ajang mujahaddah (upaya pendekatan diri) secara langsung kepada Allah, tanpa harus melalui prantara siapa pun. Inna shalati wanusuki wamahyaya wa maa mati lillahi Rabbil `alamin; sesung­guhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk (milik) Allah Tuhan semesta alam.


Saya setuju dengan ilmu tasawuf kare­na tasawuf merupakan jalan rohani yang penting diamalkan. Tasawuf bukanlah ajaran baru, tetapi merupakan kumpulan amalan-amalan sunnah yang ditekuni sampai menghasilkan mukasyafah atau tersingkapnya firman-firman Allah SWT.
Dengan demikian, kalau Anda shalat, berarti thariqah kita sama. Mursyidnya adalah Allah karena Dia-lah yang menunjukan jalan rohani (baca QS. Al-Fatihah)

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sega­la puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang menguasai di hari Pembalasan. Hanya Engkaulah yang kami sembah dan Hanya kepada Engkaulah kamu meminta pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat” (QS. Al-Fatihah: 1-7)

(Keterangan tafsir: memulai membaca Al-Fatihah ini dengan menyebut nama Alla­h. Begitu pun setiap pekerjaan yang baik, hendaknya dimulai dengan menyebut asma Allah, seperti makan, minum, menyembelih hewan dan sebagainya. Allah adalah nama zat yang Maha suci, Yang berhak disembah dengan sebenar-benarnya, Yang tidak membutuhkan makhluk-Nya, tapi makhluk yang membutuhkan-Nya. Ar-Rahmaan (Maha Pemurah): salah satu nama Allah yang memberi peringatan bahwa Allah melimpahkan karu­nia-Nya kepada makhluk-Nya, sedang Ar-Rahiim (Maha Penyayang) berpengertian bahwa Allah senantiasa bersifat rahmah yang menyebabkan dia selalu melimpahkan rahmat-Nya kepada makhluk-Nya. Alhamdu (segala puji). Biasanya memuji orang disebabkan perbuatan baiknya yang dikerjakannya dengan kemauan sendiri. Maka memuji Allah berarti: menyanjung-Nya karena mensyukuri segala kebaikan-Nya. Allah–lah sumber segala kebaikan.

Rabb (Tuhan) berarti: Tuhan yang ditaati Yang Memiliki, Mendidik dan Memelihara. Lafal Rabb tidak dapat dipakai selain untuk Tuha­n, kecuali kalau ada sambungannya, seperti rabbul bait (tuan rumah). `Alamiin (semesta alam): semua yang diciptakan Tuhan terdiri dari berbagai jenis dan macam, seperti: alam manusia, alam hewan, alam tumbuh-tumbuhan benda-benda mati dan sebagainya. Allah Pencipta semua makhluk dan alam semesta. Maalik ( yang menguasai) de­ngan memanjangkan mim, yang berarti: pemilik. Dapat pula dibaca dengan Malik (dengan memendekkan mim), artinya: Raja. Yaumiddin (hari Pembalasan): hari di mana masing-masing manusia menerima pembalasan segala amal ibadahnya, yang baik maupun yang buruk. Yaumiddin disebu­t juga yaumulqiyaamah, yaumulhisab, yaumuljazaa’ dan sebagainya. Na’budu diambil dari kata ‘ibaadat: kepatuhuan dan ketundukkan yang ditimbulkan oleh perasaan terhadap kebesaran Allah, sebagai Tuhan yang disem­bah, Karena berkeyakinan bahwa Allah mempunyai kekuasaan yang mutlak terhadapnya. 

Nasta’iin (meminta pertolongan), terambil dari kata isti’aanah: mengharapkan bantuan untuk dapat menyelesaikan suatu pekerjaan yang tidak sanggup dikerjakan dengan tenaga sendi­ri. Ihdina (tunjukanlah kami), dari kata hidayaat: memberi petunjuk ke suatu jalan benar. Yang dimaksud dengan ayat ini bukan sekedar memberi hidayat saja, tetapi juga memberi taufik. Yang dimaksud dengan mereka yang dimurkai dan mere­ka yang sesat ialah semua golongan yang menyimpang dari ajaran islam).

Dalam hal ini saya tidak bermaksud mengatakan thariqah-thariqah itu salah. Saya hanya ingin lebih memperhatikan dan menitik beratkan pada masalah shalat. Sebab shalat merupakaan jalan terbaik dan mudah dibandingkan jalan lain. Hanya saja disayangkan, kita kurang serius dan menyadari bahwa kita sebenar­nya sedang bertemu dengan Allah dalam shalat.

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa merek­a akan kembali kepada-Nya.” (Qs. Al-Baqarah: 45-46). 

Abu Sangkan

Alkhusyu -

Pertanyaan:
Ustadz Abu Sangkan yang saya hormati. Saya adalah seorang awam yang menganut thariqah (aliran sufisme) tertentu. Sabagai anggota thariqah, saya pernah menjalankan ritual baiat (sumpah dan janji setia) di hadapan sang mursyid (guru thariqah). Salah satu mukaddimah baiat yang telah saya lakukan adalah mengucapkan satu ayat dari surah Qaf; wa nahnu aqrabu ilaihi min hablil warid (dan Kami lebih dekat dari pada urat lehernya). Yang ingin saya tanyakan, adakah korelasi antara redaksi surah Qaf yang saya baca dengan konten ajaran sufi (tasawuf)? Bagaimana pandangan ustadz tentang thariqah, mursyid dan tasawuf?
Budi Santoso dari Batam (BudiS@thmulti.com.sg)

Jawaban:
Redaksional ayat “wa nahnu aqrabu ilaihi min hablil warid (dan Kami lebih dekat dari pada urat lehernya)” memang sangat berkolerasi sekali dengan ajaran tasawuf yang mengedepankan kedekatan seorang hamba dengan Rab-nya. Ayat dari surah Qaaf tersebut senada dengan ayat berikut.

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah: 186)


Pada ayat pertama, Allah menyatakan diri-Nya “dekat”, sedangkan pada ayat kedua terdapat isim tafdhil, yakni salah satu bentuk struktur kalimat Arab untuk menjelaskan sesuatu lebih dari yang lain atau “lebih dekat”. Maksudnya Tuhan “berada” setelah Anda mengetahui hakikat diri; siapakah diri ini sebenarnya? Bagaimana kita akan tahu tempat Allah sementara kita saja belum paham tentang diri sendiri? Tentu saja, kalau kondisi kita seperti itu, tidak selaras dengan ajaran sufi yang menyatakan, “Man `arafa nafsahu faqad `arafa rabbahu; barang siapa yang mengetahui dirinya, pasti dia akan mengetahui Tuhannya”

Kalimat “Aqrabu min hablil warid” memberikan pengertian bahwa Allah ada di atas hakikat diri manusia, bukan dalam hati manusia, juga bukan dalam jiwa manusia. Namun dia ada  di dalam dan di luar sekaligus. Dia meliputi segala sesuatu (baca QS. Fushilat; 54).

“Ingatlah bahwa Sesungguhnya mereka adalah dalam keraguan tentang pertemuan dengan Tuhan mereka. Ingatlah bahwa Sesungguhnya dia Maha meliputi segala sesuatu.” (QS. Fushilat; 54)
Jadi untuk memandang Allah atau menyebut nama-Nya, jangan keliru dan salah mempersepsikannya. Jangan sampai ada anggapan kita bahwa Allah seolah-­olah sedang bersemayam di dalam rongga dada manusia, masuk dan lebur di dalamnya.

Tentang thariqah menurut saya, sah-sah saja, asal tidak menyimpang dari ketentuan ajaran Al-Qur’an dan Sunnah. Saya setuju berthariqah. Tapi jangan sampai kita menklaim bahwa thariqah adalah satu-satunya jalan mendekatkan diri kepada Allah. Jangan sampai kita mengatakan bahwa yang tidak ikut thariqah tertentu tidak akan diterima Allah amalnya. Yang arif dan bijaksana adalah kita menjadikan Al-qur’an dan As-Sunnah sebagai sandaran utama kita.

Mengenai mursyid (guru spiritual dalam thariqah), selama Anda tidak mengang­gapnya sebagai penghubung ruh Anda atau wasilah menuju Allah, tentu itu boleh saja. Sepanjang mursyid Anda ajarannya selaras dengan Al-Qur’an dan Sunnah, Anda berhak menjadikan dan memposisikan ia sebagai anutan sejati.

Saya sarankan kepada Anda, jangan juga sampai berlebihan dalam menyikapi sang guru hingga Anda menkultuskannya, baik dalam kondisi sadar maupun tidak. Sebab menkultuskan selain Allah itu bagian dari perbuatan dosa syirik (menyekutukan Allah). Saat Anda berzikir, jangan sampai Anda membayangkan sang guru (mursyid). Hilangkan atau nafikan siapa saja selain Allah.

Posisi mursyid tak lebih dari sekedar manusia biasa yang mengemban amanah membina jamaahnya agar dapat beribadah dengan baik dan benar. Bila mursyid berlaku lurus, maka perannya adalah sebagai pewaris risalah para Nabi. Para Rasul merupakan abdi Tuhan dan pemberi peringatan, bukan pemberi hidayah. Ingat, seberapa pun kuatnya tekad Nabi kita Muhammad mendakwahi paman kesayangannya AbuThalib, namun akhir­nya Beliau tak kuasa mengislamkannya. Begitu pula seorang Nabi Nuh as yang tidak mampu memberi hidayah kepada anaknya yang kafir. Cerita ini dapat Anda simak lebih dalam lagi di QS. Al-Qashash ayat 56.

Karena itu, kita harus menggarisbawahi bahwa hak kita hanya berupaya mendoakan terbukanya pintu hidayah. Selanjutnya, serahkan semua urusan kepada-Nya. Sebab, Dia-lah Sang Pembuka hidayah kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Memberi hidayah adalah hak mutlak (preogratif Sang Khalik (Sang Maha Pencipta).

Alangkah baiknya Anda menyimak kembali bacaan surah Al-Fatihah yang biasa dibaca dalam shalat sehari-hari. Secara substansial, surah Al-Fatihah sangat sarat dengan nilai-nilai akidah dan keyakinan. Misalnya saja, dalam redaksional kalimat ihdinash shiraathal mustaqim; tunjukkan Kami jalan yang lurus, mengandung ajara­n asasi tauhid. Artinya, Allah-lah Sang Pemberi Hidayah yang menuntun kita ke jalan yang lurus.

Menurut saya, thariqah yang paling tertinggi adalah thariqah Nabi Muhamma­d saw. Seluruh ajarannya sempurna dan paripurna, tak ada sedikit pun kekurangannya. Ibadah shalat yang merupakan salah satu syariat yang diajarkan Rasulullah saw adalah ajaran thariqah tertinggi dan sempurna. Tak ada satu pun thariqah lain di dunia ini yang mampu menandingi thariqah shalat.

Pertanyaan :
Ustadz Abu Sangkan yang dilindungi Allah. Sebelumnya saya ucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya atas pe­ngajaran yang selama ini Ustadz berikan kepada saya. Alhamdulillah, saya telah menjalankan beberapa saran Ustadz Abu Sangkan berkenaan dengan tata cara melakukan zikir. Setiap tengah malam saya bangun. Kemudian mengambil air wudhu, lalu melakukan shalat tahajud beberapa rakaat. Setiap dua rakaat di­selingi zikir istighfar. 

Tak lupa pula saya pun memperbanyak bersyahadat, bershalawat, kemudian bertahlil seraya memejamkan mata.
Sebagaimana biasa saya duduk di atas sajadah, di ruang tamu. Namun di tengah suasana hening ibadah malam saya, saya merasakan seperti ada keanehan. Saya merasa seakan sedang berada di suatu alam yang sangat luas dan tak terbatas. Saya merasa sangat kecil. Sementara ta­ngan kanan dan kiri saya terasa begitu berat. Kondisi seperti ini berlangsung hanya 5 menit saja. 

Ketika saya memelekkan mata, semua kembali biasa. Saya anggap ini kejadian yang aneh dalam hidup saya. Pertanyaan saya, kenapa bisa terjadi demikian? Satu hal lagi, bagaimana caranya menghadirkan kekhusyu’an dalam beribadah kepada Allah? Ingin rasanya saya menangis pada saat bermunajat kepada Allah.
Mohon bimbingan Ustadz Abu Sangkan. Terima kasih. Muaz Junaidi (ennu0000@yahoo.com)

Jawaban :
Memang demikian, biasanya Allah menunjukkan kekuasaannya terhadap kita untuk membuktikan firman-Nya dalam Al-Qur’an itu benar. Bahwa Al-Qur’an merupakan panduan dalam setiap perjalanan umat menuju kehadirat-Nya. Dengan demikian diharapkan keyakinan dan akidah kita semakin kuat. Insya Allah­ iman Anda tidak bisa diubahkan oleh siapapun, karena menyaksikan sendiri dengan kasyaf sebagian kecil dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Itulah iman yang benar karena dilandasi penyerahan dan kepasrahan diri kepada Allah. Kaum mukmin percaya dan yakin adanya perkara ghaib dan cerminan iman itu pun bisa terlihat dari implementasi amaliyah kesehari­an dalam bentuk baiknya akhlak terha­dap Allah, Rasul-Nya, keluarga, kerabat, para tetangga, teman dan handai taulan, bahkan baik terhadap dunia sosial secara umum dengan menampakkan kesalehan sosial.

Allah SWT berfirman:
“(Yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang kami anugerahkan kepada mereka.” (QS. Al-Baqarah: 3)

(Keterangan tafsir: iman ialah kepercayaan yang teguh yang disertai dengan ketundukan dan penyerahan jiwa. Tanda-tanda adanya iman ialah mengerjakan apa yang dikehendaki oleh iman itu. Yang ghaib ialah yang tak dapat ditangkap oleh pancaindera. Percaya kepada yang ghaib adalah dengan mengi’tikadkan adanya sesuatu yang maujud (diadakan) yang tidak dapat ditangkap oleh panca indera, karena ada dalil yang menunjukkan kepada ada­nya, seperti: adanya Allah, malaikat-malaikat, hari kiamat dan sebagainya.

Shalat menurut bahasa Arab bermakna doa. Menurut istilah syara’, shalat berarti ibadah yang sudah dikenal, yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam, dilakukan untuk membuktikan pengabdian dan kerendahan diri kepada Allah mendirikan shalat ialah menunaikannya dengan teratur, dengan melangkapi syarat-syarat, rukun-rukun, dan adab-adabnya, baik secara lahir maupun batin atau khusyu’, dan memperhatikan apa yang dibaca dan sebagainya.

Rezeki: segala yang dapat diambil manfaatnya. Menafkahkan sebagian rezeki, ialah memberikan sebagian harta yang telah dikaruniai Tuhan kepada seke­lompok orang-orang yang disyari’atkan oleh agama untuk menafkahinya, seperti orang-orang fakir, orang-orang miskin, kaum kerabat, anak-anak yatim dan lain-lain).

Keteguhan iman itu akan menghujam lebih dalam. Karena anda bisa berjalan melalui iman dan jiwa, bukan dengan pikiran. Karena Tuhan juga tidak pernah memanggil dengan berujar “Wahai pikiran! Wahai perasaaan! Wahai badan!” Akan tetapi Dia memanggil kepada jiwa yang tenang seraya menyeru, “Wahai jiwa yang tenang, datanglah kepada-Ku de­ngan rela dan diridhai. Masuklah kalian ke dalam surga-Ku.”

Mengapa hal ini tidak diupayakan lebih dari sekedar retorika dan kepura-puraan dalam beragama? Mengapa kita tetap dalam kubangan permainan kata yang tak berujung? Padahal setiap ayat adalah jalan yang bisa ditempuh dan dirasakan, bukan omong kosong, Kita menuju kepada Yang Maha Hidup dari Maha Berbicara. Mengapa kita hanya berdiri di pintu syariat padahal di baliknya ada hakikat (kebenaran) syariat itu sendiri? Tentu saja, Anda adalah salah satu yang membenarkannya.

Tak ada alasan untuk mengingkari tanda-tanda kekuasaan Allah yang tak terbatas. Menafikannya sama halnya dengan merendahkan diri sendiri karena keterbatasan kesempitan pengetahuan yang miliki. Ilmu Allah itu Maha Luas. Tidaklah manusia diberikan kepahaman kecuali hanya sedikit dan segelintir saja. Semuanya dimengerti hanya dengan petunjuk Allah.

Anjuran saya, teruslah beribadah dengan sungguh-sungguh. Insya Allah, Anda termasuk golongan hamba-hamba Allah yang selalu diberikan petunjuk dan hidayah-Nya, sebagaimana Allah lukiskan dalam salah satu firman-Nya:

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami, benar-benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut: 69)

Berdirilah dengan tenang seperti hendak shalat. Selain shalat khusyu’ de­ngan tata cara yang telah disyariatkan, berkomunikasilah selepas shalat dengan bahasa jiwa yang mampu menghubungkan perasaan Anda. Hadirkan diri dan kepasrahan Anda serta ketundukkan anda hanya kepada Allah Zat Yang Merajai segala-galanya.

Istirahatkanlah pikiran Anda. Biarkan rasa spiritual mengalir dengan perlahandi sekujur jiwa Anda. Sebutlah nama Allah, “Wahai Allah, ya Allah, ya Allah.” Berzikirlah dengan lafzul jalalah (lafaz Allah) secara terus menerus, perlahan dan nadanya agak diperpanjang, “Ya Allaaaaaah, ya Allaaaaaah.” Dan seterusnya sambil Anda merasakan jiwa Anda melayang menuju Allah.
Biasakan zikir seperti itu pada setiap selesai shalat atau pada waktu senggang sampai anda mendapatkan sambutan Allah­. Serahkan segenap diri Anda hanya kepada Allah semata dan bermunajatlah seraya memohon segala tuntunan dan bimbingan-Nya. Semoga Anda mendapatkan getaran sambutan dari Allah itu ada. (Abu Sangkan)     

Pertanyaan: 
Alhamdulillah setelah saya membaca 3X tulisan ustad tentang bagaimana cara mencapai ihsan, kualitas ibadah saya lebih meningkat dari sebelumnya. Setelah saya melakukan shalat, ada rasa haru dan tangis. Keyakinan saya menjadi semakin teguh. Saya merasa begitu dekat sekali dengan Allah SWT.
 
Tetapi sensasi rasa spritual baru hanya sampai distu saja. Saya belum mampu mencapai dan menggapai sensasi rasa spritual yang lebih dari itu. Belum saya rasakan rasa spritual yang seperti Ustadz ajaarkan bahwa kalau aku dalam Engkau, maka Engkau dalam aku. Belum pula saya rasakan sapaan dari-Nya.
 
Walaupun saya belum berhasil mencapai puncak spritual yang sangat saya harapkan, tapi saya tidak berputus asa. Insya Allah saya akan tetap melaksanakan ibadah-ibadah yang dapat semakin mendekatkan saya dengan Allah. Saya pun akan memperbanyak melakukan shalat dan zikir.
 
Adapun tentang zikir, ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan kepada Ustadz Abu Sangkan. Setelah saya melanggengkan kebiasaan berzikir ada beberapa hikmah besar atau semacam pencerahan yang terjadi pada diri saya. Pertama saya mudah sekali terharu, apabila saya memanggil nama Allah atau saya dengar nama-Nya disebut, ada rasa aneh terjadi dalam diri saya, mudah sekali airmata berkaca-kaca. Apakah ini nafsu?
 
Selain itu, usai berzikir saya merasakan kedamaian dalam diri. Rasa benci atau kesal pada orang lain pun sirna. Bahkan mental dan emosi saya bisa lebih terkontrol secara baik. Rasa toleransi dan pemakluman saya terhadap pribadi lain lebih tinggi kendati sikap dan sifat mereka tidak menyenangkan. Saya menjadi pribadi yang suka mengalah. Apakah perubahan yang terjadi pada diri saya hanya bersifat sementara?
Selain itu dalam menjalani hidup keseharian saya seperti merasakan ada bimbingan untuk melakukan yang baik dan menghindari yang buruk. Saya merasakan kejelasan untuk melihat sesuatu hal baik dan boleh dikerjakan, sedangkan hal lain adalah buruk dan harus dijauhi.
 
Hal lain yang juga patut saya syukuri adalah bertambahnya rasa kasih sayang saya, terutama terhadap orang-orang terdekat; suami dan tiga anak-anak saya. Saya tidak cepat marah, tidak merasa mengatur waktu, tapi waktu yang mengatur saya.
Kejadian aneh lainnya juga terjadi pada saya. Apabila sejenak saya melalaikan zikir, timbul rasa penyesalan dalam diri. Pada lain waktu apabila saya lupa zikir, ada semacam seruan atau daya kekuatan tersendiri yang membangkitkan kesadaran spritual saya untuk kembali mengingat dan menyebut nama-nama Allah Yang Agung.
 
Saya harus jujur mengatakan, lama kelamaan zikir itu  menjadi ibadah yang begitu mengasyikan sekali. Saya pun bebas waktu berzikir. Bisa sambil duduk, berbaring, memasak, bermain dengan anak-anak atau sambil nonton TV, dan sebagainya.
 
Saya sangat bersyukur sekali dengan perubahan ini dan saya tetap berdoa agar iman, ihsan dan kecintaan saya kepada Allah tetap bertambah. Yang lain saya tanyakan, apakah yang saya alami ini benar benar merupakan berkah atau hikmah besar dari ibadah zikir?
Pertanyaan lain adalah................................

Untuk lengkapnya, dapatkan majalah Al Khusyu' disini (Isi Formulir Belanja) atau hubungi agen sirkulasi terdekat atau telpon langsung ke:  Jln Kemang Sari IV No 5 Jatibening Baru Pondok Gede Bekasi Telp 021-849 78843 / 021-849 78836


Ustad saya ingin menanyakan tentang ilmu laduni. Selama ini saya mendengar bahwa orang yang memperoleh ilmu laduni akan menjadi sakti, ucapannya akan menjadi sabda, bahkan keramat. Apakah benar begitu?
Ilmu laduni diambil dari kalimat minladunna ilman, yaitu ilmu yang berasal dari sisi kami (Allah). Ilmu laduni tercatat dalam al Quran, “Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba kami, yang telah kami berikan kepadanya rahmat dari sisi kami, dan yang telah kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi kami  (QS Surat Al-Kahfi: 65-68)


Menurut ahli tafsir, yang dimaksud dengan hamba dalam ayat tersebut adalah Nabi Khidhr alaissalam, dan yang dimaksud dengan rahmat adalah wahyu dan kenabian. Sedangkan, ilmu yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah ilmu tentang yang ghaib, seperti yang tercatat dalam ayat selanjutnya (ayat 66-82) dalam surat yang sama, tentang kisah Nabi Musa dan Nabi Khidhr.


Dalam ayat tersebut, Nabi Musa memprotes perilaku Nabi Khidhr yang dinilainya telah berbuat kesalahan besar, dengan melubangi perahu dan membunuh anak kecil, juga Nabi Musa bertanya-tanya untuk apa mendirikan dinding rumah yang hampir roboh. Nabi Khidhr melakukan tindakan ini berdasarkan ilmu yang diberikan Allah, mengetahui kejadian di masa datang. Perahu sengaja dilubangi dan dibiarkan tenggelam, karena perahu itu milik orang miskin, jika dibiarkan akan dirampas oleh raja lalim. Anak kecil itu dibunuh karena kelak ketika dewasa akan menyesatkan orangtuanya yang saleh, sedangkan dinding yang hampir roboh didirikan, karena milik anak yatim yang di bawahnya tersimpan harta benda untuk anak yatim tersebut sebagai rahmat dari Allah


nilah ilmu laduni atau ilmu mukasyafah yang diberikan oleh Allah pada orang orang tertentu, seperti nabi Khidhr. Ilmu ini bukan hasil dari mempelajari sesuatu dalam satu bidang ilmu, tapi merupakan ilham yang diletakan di dalam jiwa orang mukmin yang hatinya bersih. Orang yang jiwanya bersih diberi kefahaman oleh Allah untuk menangkap suatu kejadian yang sedang dan akan terjadi. Jiwa yang bersih dapat melakukan komunikasi kepada sumber ilmu, yaitu Allah yang Maha Mengetahui segala sesuatu.

Untuk lengkapnya, dapatkan majalah Al Khusyu' volume 1 disini atau hubungi agen sirkulasi terdekat atau telpon langsung ke Shalat Center (021) 8497 8836


Bahasa Ruh itu universal dan bisa dirasakan oleh setiap makhluk, termasuk binatang dan alam. Sebenarnya kita belum memiliki pengetahuan memadai tentang bagaimana bahasa ruh. Boleh jadi bahasa ruh itu adalah bahasa rohani. Disadari atau tidak, bahasa rohani ini sering kita gunakan dalam berkomunikasi dengan orang maupun binatang, tumbuhan, dan sebagainya.

Anda mungkin tidak menyadari ketika sedang berbicara dengan bayi Anda, dengan kuda peliharaan Anda, dengan tanaman bonsai dan Anda merasakan kepuasan batin setelah semua yang Anda utarakan disambut dengan baik dan Anda mengerti.

 Mari kita telusuri asal bahasa kita, seperti apakah bahasa kita ini sebenarnya. Bahasa yang kita kenal sekarang ini adalah sebuah rumus-rumus atau isyarat untuk mengungkapkan makna yang hakiki dari bahasa rohani. Apakah bahasa rohani itu? Bahasa rohani adalah rangkaian kalimat yang tidak berhuruf, tidak berupa sua­ra, dan tidak berupa bentuk, akan tetapi berupa pekerti, intuisi, ilham, dan wahyu. Bahasa ini dapat dipahami oleh semua makhluk tanpa batasan. Bahasa ini dipahami oleh orang Perancis, Inggris, Jawa, Madura, Baduwi, Irian, bahkan anjing dan lebah dapat memahaminya.

Rasa suka, cinta, rindu dan benci, merupakan salah satu contoh dari bahasa rohani yang bersifat universal. Kemudian sejarah manusia menciptakan rumusan-rumusan yang dapat dimengerti dan disepakati oleh komunitasnya sehingga menjadi sebuah budaya bahasa. Budaya bahasa yang dimaksudkan itu kita kenal sekarang dengan berbagai rumus-rumus yang beraneka ragam, namun tetap menceritakan keadaan yang sama persis seper­ti yang dirasakan oleh seti­ap manusia atau binatang. Misalnya saja rasa rindu, kasih sayang, cinta dan benci, setiap orang pasti memiliki bahasa ini. Hanya saja cara pengungkapkannya yang berbeda. 

Diberdayakan oleh Blogger.